Kamis, 07 Agustus 2014

Belajar Agama Dari Suatu Puisi

Tahukah anda bahwasanya puisi Ramadhan dapat mengajarkan beberapa hal perihal agama? Puisi Ramadhan menaruh arti yang penuh hikmah. Kita dapat banyak belajar dari suatu puisi Ramadhan. Bln Ramadhan yang penuh barokah jadikan momentum untuk kembali ke jalan-Nya yang lurus. Puisi Ramadhan yang terwujud bersumber dari perenungan hati yang lupa bakal keharusan.
Puisi Ramadhan senantiasa mendatangkan serangkain bait yang menggugah keimanan. Rangkaian kata-katanya indah menggugah perasaan pembacanya untuk larut dalam nuansa rohani. Puisi Ramadhan bukan sekedar hanya ungkapan penyesalan hati yang sukai menelantarkan keharusan. Puisi Ramadhan lebih untuk pengingat untuk kita yang semakin banyak konsentrasi pada kehidupan dunia yang bakal selesai. Puisi Ramadhan - Belajar Agama dari Suatu Puisi
Sadarkah Anda bila dalam suatu puisi Ramadhan kita dapat belajar serta mengerti ajaran agama. Dari suatu puisi Ramadhan kita dapat juga meresapi kebesaran Allah Swt lewat rangkaian bait dalam puisi. Semacam begitu istimewanya bln Ramadhan, demikian banyak ladang amal yang kita peroleh sepanjang melaksanakan ibadah di bln Ramadhan.
Ajaran agama islam bukan sekedar dapat kita peroleh dari buku-buku pelajaran, atau mungkin dari majlis-majlis taklim semata. Dalam suatu puisi Ramadhan juga dapat kita petik beragam ajaran agama di dalamnya. Lewat perenungan dalam suatu puisi Ramadhan, sesungguhnya bila kita meresapi lebih dalam, terdapat beberapa hikmah yang dapat kita temui. Umumnya dalam puisi Ramadhan kita dapat mengerti begitu Allah itu Maha Besar, semacam yang dapat kita tengok dalam puisi Ramadhan seperti berikut.
Ramadhan yang Bakal Selekasnya Berlalu

Bumi ini telah tua
Senja senantiasa membayangi kita semua
Semacam Ramadhan yang bakal berlalu

Lembayung senja yang menaungi kita semua
Masih kah ada rasa kesombongan
Yang menggelegar dalam hati
Saat Ramadhan bakal selekasnya berlalu

Kupandang lagi langit yang menghadirkan senja
Senja yang terkadang terlupakan
Senja yang terkadang berbuntut rasa sedih tanpa ada persiapan
Semacam Ramadhan yang bakal selekasnya berlalu

Saya senantiasa terpaku selalu untuk Istiqomah
Predikat yang susah kuraih dengan statusku ini
Kealpaan untuk manusia biasa
Saat senja semacam Ramadhan yang bakal berlalu

Fenomena kecil diantara langit senja seolah terlupakan
Terlewati oleh ego kita untuk manusia
Melupakan Engkau Ya Rabb, Ya Allah, Tuhan YME
Semacam senja, semacam Ramadhan yang bakal selekasnya berlalu

Rasa takjub bakal keajaiban senja
Bikin saya seakan terpana untuk sebagian saat
Nyatanya banyak anugrah serta keajaiban yang terlewatkan
Saya lupa, saat sekarang ini telah senja
Semacam Ramadhan yang bakal selekasnya berlalu

Tempo hari ketika senja
Allah tunjukkan sedikit keajaiban di lokasi langit
Propinsi Sumatera Utara
Bikin kita sedikit tertunduk serta terasa kecil
Lantaran memanglah senja itu telah dekat
Semacam Ramadhan yang bakal selekasnya berlalu

Uhhh, ini kah matahari sore yang menyilaukan itu
Memanaskan badan dengan suhunya yang dahsyat
Menanti untuk membakar badan-tubuh yang lupa
Lupa bakal maksud akhir dalam hidup
Saat sadar
Semacam Ramadhan yang bakal selekasnya berlalu

Ah senja, senantiasa saja bikin saya was-was
Dengan kehidupan ini
Mudah-mudahan seluruhnya bakal baik-baik saja
Mudah-mudahan saya bakal senantiasa ingat
Serta mudah-mudahan senyuman ini masih punya kita semua
Serta kita masih dapat lihat kejernihan ciptaan Allah Swt
Semacam menunggu kehadiran Ramadhan thn depan
Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita bersua dengannya lagi

***by : Said
Dari bait-bait puisi Ramadhan diatas, bisa kita petik pelajaran, bahwasanya hidup ini cuma Allah Swt tempat kita kembali. Menurut puisi Ramadhan itu dapat kita ambillah pelajaran bahwasanya alam beserta berisi adalah ciptaan Allah, serta kita pantas mensyukurinya. Lewat bln Ramadhan yang bakal selesai ini, adalah peristiwa yang utama untuk mensyukuri karunia Allah Swt. Puisi Ramadhan - Himpunan Hikmah dalam Bait-bait Puisi
Padatnya kesibukan kita, kadang-kadang kita lupa untuk bersukur, meresapi keagungan Allah Swt. Saat membaca bait-bait puisi Ramadhan seakan kita tersadar kembali bakal fitrah kita untuk hamba-Nya. Kadang-kadang bila kita terasa kurang mengerti apa yang Allah Swt perintahkan, kita menuangkan sepenggal penyesalan dalam bait-bait puisi Ramadhan.
Puisi Ramadhan dilihat ampuh untuk mengemukakan sebagian ajaran serta pengingat untuk kita yang kerap melalaikan perintah Allah Swt. Jadi dalam suatu puisi Ramadhan dapat disebutkan bertindak dalam menebarluaskan peringatan untuk kembali pada fitrah kita untuk hamba Allah Swt. Puisi Ramadhan dapat juga jadikan fasilitas untuk memberikan pujian pada kebesaran serta kekuasaan Allah Swt. Semacam yang dapat kita tengok dalam penggalan puisi Ramadhan dibawah ini :
Puisi Ramadhan

Ya Allah Kau datangkan lagi Ramadhan buatku
Saat saya masih saja tidak dapat
Mensyukuri Ramadhan-Mu yang lalu
Hari-hari-Mu masih saja kulalui
Tanpa ada isi
Tanpa ada makna
Tanpa ada syukur
Bahkan juga dengan sikap takabur
Terkadang kami masih saja lupa
Bahwasanya Engkaulah Penentu
Terkadang kami masih saja
Terasa kebenaran itu cuma punyaku
Yang lain bukan hanya makhluk-Mu
Yang lain bukan hanya umat-Mu

Dalam Doaku...
Kerap kusampaikan dengan memaksa
Seakan akulah yang lebih tahu dari-Mu, Sang Maha Tahu
Doaku bukan hanya harapan, namun satu keharusan
Serta saat ada satu yang tidak Kau kabulkan
Seakan hilang semua nikmat yang Kau limpahkan
***
Tidak Kian lebih Sebutir Debu
Ada sekuntum hari
Dimana wanginya mengharumi bumi selama waktu
Lantaran waktu tersebut kemahamurahan Sang Khaliq berlimpah
Menjadikan satu pada semua inti hidup

Yaitu Ramadhan
Ia bertelaga bening
Airnya mutiara maghfiroh
Gericiknya dzikir serta tadarrus
Tepinya doa lemah lembut, lrih serta berpasrah hati
Siapa tidak mau jadi ikannya?
Mari berenang dengan kesunyian nafsu
Supaya tiap-tiap sirip kita tidak patah sia-sia

Ia rahasia
Tidak sebatas lapar dahaga
Namun sebenarnya tersebut hakekat cinta
Serta satu diantara langkah bertegur sapa dengan Allah
Lantaran dengan lapar serta haus
Kita dapat lebih mengerti bahwasanya kita tidak berpunya
Dapat lebih mengerti
Bahwasanya kita tidak kian lebih sebutir debu
Diantara kemahaluasan-Nya

Ia sepantasnya dirindukan
Lantaran Ia lebih

Di cakrawala bertebaran pengampunan Rakhmat
Serta semua kebaikan
Juga Nuzulul Qur'an serta Lailatul Qodar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar